Konon, ketika Paul Pogba memutuskan hengkang dari Manchester United pada 2012 silam, pelatih Real Madrid Castilla Alberto Toril menyampaikan informasi ini kepada presiden Florentino Perez bahwa pemain yang ketika itu berusia 18 tahun dapat diboyong seharga €100 ribu.

Jika mengikuti keputusan Pogba bergabung ke Juventus tanpa biaya transfer, dana sebesar itu hanya untuk membayar komisi agen. Namun, apapun itu, nominal tersebut sangat pantas untuk bisa mendapatkan salah satu pemain berbakat terbaik di dunia sepakbola.

Akan tetapi, Perez tidak berminat. Malah balik berkata kepada Toril, “€100 ribu? Datang lagi kepadaku kalau dia sudah seharga €100 juta!”

Mendatangkan pemain tidak teruji seperti Pogba jelas tidak mencerminkan model bisnis yang diterapkan Madrid, yang selayaknya sebuah perusahaan Disney.

Mereka lebih suka membeli pemain dengan kepribadian yang sudah terbentuk, sudah menjadi semacam industri sendiri. Artinya, Real adalah klub yang bakal berinvestasi terhadap karakter berwarna — berapa pun harganya.

Madrid adalah tentang bintang besar, transfer hebat, deal komersial kolosal, promosi penjualan masif, pendekatan arus utama, dan di atas itu semua, guyuran uang.

Modus operandi Madrid di bursa transfer memang telah berubah sejak mendatangkan “Galactico” terakhir mereka, yaitu James Rodriguez, 2014 lalu. Namun, itu dengan catatan bahwa sebenarnya mereka tak kunjung berhasil mendapatkan pemain berprofil tinggi untuk mempertahankan model bisnis mereka, antara lain seperti Neymar dan Kylian Mbappe.

Pogba yang kita lihat hari ini jelas cocok dengan persyaratan Madrid yang gemar mendatangkan pemain hebat.

Pemain 25 tahun itu salah satu pemain laris di dunia sepakbola, sebuah fenomena media sosial sejati, kepribadian yang luar biasa.

Itu pula yang menjadi alasan kenapa dia berpeluang kembali meninggalkan Old Trafford.

Saat di Juventus, Pogba belum berhasil memenuhi potensinya, tapi dia menuju ke arah itu. Untuk menampilkan kemampuan terbaik, Pogba harus diberikan kebebasan, dan Juventus dengan senang hati mengakomodasinya.

Sayangnya, dengan rezim Jose Mourinho di Manchester United yang ketat dan kaku, Pogba harus memuaskan tuntutan taktik pelatihnya.

Tidak mengherankan jika Pogba tidak selalu bereaksi positif terhadap pembatasan seperti itu.

Akar permasalahan merenggangnya hubungan mereka adalah pendekatan manajemen personalia yang diterapkan Mourinho dalam membuat para pemainnya mengerahkan kemampuan terbaik.

Mourinho tidak peduli bagaimana para pemain menilai kepribadiannya selama mereka mematuhi peraturan dan mampu memberi hasil di atas lapangan. Bagi pemenang dua kali Liga Champions itu, hasil akhir lebih penting daripada cara memperolehnya.

Filosofi itu berjalan baik bagi Mourinho di masa lalu, tetapi tidak sekarang, tidak di Old Trafford. Sepakbola telah berkembang, pemain berubah. Contoh sempurnanya, Pogba.

Dia sekarang seorang juara dunia, sudah menjadi sebuah industri sendiri, sebuah label, sebuah jenama, dan jelas bukan tipe orang yang mudah diintimidasi supaya mau mematuhi apa pun permintaan pelatih.

Saya pikir di dalam benak pikiran Pogba, dia dan Mourinho sederajat. Itu yang menjadi alasan keretakan hubungan keduanya.

Selama 12 bulan terakhir, agen Pogba yang sangat proaktif, Mino Raiola, mengerahkan segala cara supaya kliennya bisa pindah dari Manchester. Tidak perlu diragukan lagi, pada musim ketiganya di Inggris, Pogba memutuskan sudah muak dengan Mourinho dan minta pindah.

Ed Woodward menyatakan dukungan kepada Mourinho di depan publik dalam hal perseteruannya dengan Pogba, tapi diam-diam, dia juga bilang ke semua orang kalau pemain Prancis itu takkan dilepas ke mana pun.

Pada saat bersamaan, Raiola terus berkicau dengan mengatakan klub-klub top menginginkan Pogba, seperti Juventus dan Barcelona.

Kondisi finansial Juventus sedang ketat saat ini setelah memboyong Cristiano Ronaldo ke Turin, sedangkan Barcelona menegaskan bahwa mereka tidak pernah menghubungi baik United maupun Pogba.

Tapi, dengan huruf kapital, kalau Pogba masuk daftar jual, klub-klub itu tentu berminat mendapatkan pemain dengan kualitas seperti dirinya.

Tapi, apakah Pogba transfer yang bagus buat Barcelona?

Di luar gaya tiki-taka mereka yang terkenal, Blaugrana juga gemar merekrut pemain dengan kemampuan fisik mumpuni, misal Yaya Toure, Seydou Keita, dan Paulinho. Masing-masing bisa dibilang sukses meniti karier di Camp Nou.

Namun, tidak ada yang menjadi superstar Barca. Keluhan Arturo Vidal belakangan ini seperti menegaskan pemain dengan tenaga dan kemampuan fisik seperti Pogba tidak sejalan dengan filosofi klub.

Pogba tidak menyembunyikan hasrat bermain bersama Lionel Messi, tapi kalau dia benar-benar mau melakukannya, dia harus menyesuaikan cara bermain.

Dia harus jauh lebih disiplin, baik saat dengan atau tanpa bola.

Seperti yang kita saksikan di Piala Dunia Rusia, Pogba mampu beradaptasi dan dia mau melakukannya untuk Barcelona. Apa yang dia inginkan adalah kembali menikmati sepakbola, yang sayangnya tidak terjadi saat ini.

Pogba kelihatan dan kedengaran menderita ditangani Mourinho di United. Lebih merisaukan lagi bagi Mourinho adalah ketika sang pemain mengungkapkan rasa frustrasi, saya pikir rasanya dia bicara atas nama mayoritas pemain yang mengisi ruang ganti Old Trafford.

Kali terakhir Pogba bicara kepada media, atau justru bisa dibilang tidak bicara sama sekali, adalah usai bermain imbang melawan Valencia di Liga Champions. Dia hanya mengatakan bahwa dia tidak bisa bilang apa-apa.

Artinya, kita bakal lama tidak mendengar apa pun dari Pogba. Tapi pantau terus ke mana kelanjutan kisah opera sabun ini.

Untuk saat ini, kelihatannya Pogba takkan bisa bahagia sampai akhirnya pindah ke Barcelona.