Pierre-Emerick Aubameyang boleh jadi bisnis terbaik Arsenal, tapi kekalahan di Final Piala Liga menjelaskan luka lama mereka belum juga terobati.

Berawal dengan baik, berakhir dengan tangisan. Demikianlah pemandangan yang terjadi saat Manchester City sukses mengangkangi Arsenal di final Piala Liga Inggris, trofi yang belum sekali pun dicicipi Arsene Wenger dalam dua dekade kariernya bersama The Gunners.

Performa Klub London Utara seolah menggambarkan keengganan mereka untuk berjuang menyelamatkan musim dengan menjuarai ajang satu ini Minggu kemarin, terlebih melihat penampilan mereka di babak kedua yang kacau balau.

Kendati laskar Wenger memulai laga dengan cukup impresif dengan mampu mengendalikan bola sebagaimana gaya khas mereka, The Citizens justru mencuri gol pembuka saat laga menginjak menit ke-18. Penyerang Argentina ini memaksimalkan umpan dari situasi goal-kick yang dikirim kiper Claudio Bravo. Terlihat Shkodran Mustafi tak siap menutupi manuver Aguero.

Keputusan Mustafi mengawal persis di belakang Aguero justru harus dibayar mahal dengan sang bek tak mampu menutupi kesalahannya. Pasca laga, legenda Manchester United Gary Neville melabelinya sebagai “pemain yang menyedihkan”.

Seakan tak belajar dari sejarah, Aguero adalah sosok yang selalu menjebol gawang Arsenal di lima petemuan terakhir di seluruh kompetisi. Mustafi memang bukan satu-satunya yang patut dikritisi, sebab kapten Laurent Koscielny pun tak mampu bereaksi secra sigap dan cenderung lamban saat menyaksikan Aguero berlari.

Arsenal semakin kehilangan ide ketika Vincent Kompany mencetak gol kedua City dari tepi kotak penalti. Sekali lagi, lini defensif Meriam London menunjukkan ketidakmampuan mereka membelenggu daya dobrak lawan-lawan besar.

Koscielny boleh menjadi kapten. Namun, mengatakannya sebagai figur pemimpin rasanya terlalu naif. Hanya Jack Wilshere bersama Aaron Ramsey yang terlihat bermain lebih hidup dalam memberikan perlawanan di lini tengah. Namun, lama kelamaan mereka pun agaknya terganggu setelah melihat pertahanan timnya yang begitu mudah diterobos anak-anak Pep Guardiola.

Ketidakseimbangan skuat Arsenal bisa ditelisik mulai dari musim panas 2015, di mana Wenger hanya mendatangkan satu pemain kala itu, Petr Cech, di tengah kebutuhan merenovasi tim di sejumlah area.

Bolehlah menilai perekrutan Pierre-Emerick Aubameyang dari Borussia Dortmund Januari lalu merupakan bisnis terbaik Arsenal, namun jelas langkah itu sebetulnya bukanlah prioritas klub bila mempertimbangkan jumlah kebobolan tim dari pekan ke pekan.

Harusnya Arsenal melihat situasi Per Mertesacker, yang bersiap pensiun akhir musim ini. Lebih dari itu Arsenal mesti meluaskan pandangan terhadap problem cedera berkala Koscielny dan berbagai blunder yang kerap dibuatnya, Calum Chambers yang terbukti belum cukup bagus untuk bermain dengan tim top Inggris serta masih perlunya sosok-sosok belia macam Konstantinos Mavropanos dan Rob Holding untuk menimba lagi pengalaman sebagai pemain pinjaman.

Jangan remehkan, pertahanan nan solid menjadi salah satu kunci kesuksesan sebuah tim sepakbola dan hal ini jadi sesuatu yang belum dimiliki Arsenal dewasa ini.

Terbukti, City bisa menjaga gawang mereka clean sheet dan dengan mudah membombardir barikade palang pintu Arsenal. Untuk kesekian kalinya, Wenger dan manajemen harus melakukan evaluasi konkret.

Kancah Liga Europa menjadi satu-satunya harapan yang paling realistis bagi Arsenal untuk menutup musim ini dengan torehan trofi. Namun, Arsenal perlu waspada karena lawan mereka bukan tim sembarangan di belantika Eropa, yakni AC Milan.

Lawatan ke San Siro menanti mereka dalam waktu dekat. Bila kembali gagal di kompetisi kelas dua sepakbola Eropa ini, barangkali peluang Wenger mempertahankan jabatannya di Emirates Stadium semakin tipis.