Dipandang sebagai lelucon ketika datang untuk gantikan Mohamed Salah, Cengiz Under kini mulai buktikan kualitasnya.

Khalayak sepakbola Italia dibuat tertawa tatkala AS Roma mendatangkan sosok yang benar-benar asing dari Turki, untuk gantikan pos krusial di lini depan peninggalan Mohamed Salah.

Adalah Cengiz Under, winger lincah berusia 20 tahun yang punya julukan “Dybala dari Turki”. Dia diboyong lewat banderol yang cukup mahal menimbang usia dan pengalamannya, dengan harga €13,4 juta.

Tidak banyak yang tahu sepak terjangnya dan tak ada klub besar lain pula yang meminatinya, meski bersinar bersama Istanbul Basaksehir musim lalu. Publik Turki bahkan lebih ‘ngeh’ dengan kiprah Emre Mor bersama Borussia Dortmund, yang berujung suram.

Romanisti pun jadi hanya bisa berharap lebih pada winger baru lain yang didatangkan dari Sassuolo, Gregoire Defrel, atau bintang setengah jadi mereka, Stephan El Shaarawy, guna dampingi Diego Perotti untuk melayani Edin Dzeko.

Dugaan bahawa Under hanya akan jadi pembelian cuma-cuma pun tampak jadi kenyataan, dengan sulitnya dia menembus starting XI. Dia pun jadi pengoleksi menit bermain paling sedikit di antara penggawa lini depan Roma lainnya, hingga tengah musim ini.

Menjadi semakin buruk lantaran Under juga gagal membuat kontribusi krusial khas penyerang, entah berupa gol maupun assist. “Under harus lebih bekerja keras. Baik di dalam maupun di luar lapangan. Dia harus segera mengerti bahasa Italia dan memahami pergerakan yang sebaiknya tak dilakukan,” kritik pelatih Roma, Eusebio Di Francesco, seperti dikutip La Stampa.

Tak heran bila pada bursa musim dingin lalu Under gencar dirumorkan bakal hijrah dari Roma. Klub medioker Serie A Italia, Chievo Verona, nyaris mendapatkannya dengan status pinjaman walau akhirnya urung terwujud.

Namun publik sepertinya lupa bahwa orang yang mendatangkan Under merupakan sosok yang dikenal genius di lantai bursa. Figur yang sukses membuat Dani Alves, Julio Baptista, Seydou Keita, hingga Ivan Rakitic jadi bintang sepakbola dunia.

Siapa lagi kalau bukan Monchi, karena pada akhirnya semua hanya soal waktu. Perlahan namun pasti atau tepatnya di pada periode kedua musim ini, keputusannya mendatangkan Under terbilang tepat.

Under mendadak jadi bintang utama Roma, yang sempat didera krisis nir kemenangan dalam enam giornata beruntun. Selalu menjadi starter dalam lima giornata terkini, pemain bernomor punggung 17 itu tak pernah mengecewakan.

Empat gol dan satu assist disumbangkannya dalam tiga giornata terakhir yang semuanya dimenangkan Roma.

“Under telah membuat kemajuan besar akhir-akhir ini, dan perkembangannya juga masih belum berhenti. Sekarang saya paham bahwa dia akan memberi impak sesungguhnya jika bermain sejak awal laga,” tutur Di Francesco usai Under memenangkan Roma di Marc Antonio Bentegodi, seperti dikutip Mediaset Premium.

“Under butuh stabilitas, dia butuh untuk bermain dengan rutin namun itu tidak mudah. Selain itu dia sudah mengerti bahasa Italia, meski belum bisa berbicara dengan baik. Dia masih butuh waktu untuk beradaptasi,” jelas sang pelatih.

Selain karena rutinitas bermain, kebebasan melakukan pergerakan ke dalam yang sebelumnya tak diberikan Di Francesco menjadi kunci. Punya tembakan geledek nan akurat sebagai kualitas utamanya, tiga dari empat gol Under tercipta lewat aksi cut-inside. Paling memesona? Tentu saja dentuman spektakulernya ke gawang Albano Bizzarri akhir pekan lalu, saat mengawali kemenangan 2-0 Roma atas Udinese.

Faktanya Under memang datang dengan status underrated, tapi sekarang apakah Anda masih berani meremehkan kualitasnya?